Friday, June 13, 2008

BURUNG HIDUP ATAU BURUNG MATI?

Masih segar dalam ingatan saya pada tahun 1991 ketika saya melakukan perjalanan pulang ke Kebun Swee Lam di Kulai, Johor, Malaysia, saya ada mendengarkan siaran radio di dalam mobil suatu kalimat yang indah disampaikan oleh seorang DJ. Kalimat itu adalah seperti ini, “ Kebijaksanaan timbul dari pengalaman, dan pengalaman didapat sejalan dengan bertambahnya usia”. Seberapa benar pernyataan tersebut !

Ada satu ceritra yang biasanya saya sampaikan kepada Asisten Kebun ketika saya sebagai Manajer Kebun di IOI Corporation Berhad. Saya ingin berbagi dengan para pembaca yang budiman.

Pada satu ketika ada seorang pemuda yang baru tamat sarjana di desa kecil. Pemuda itu menjadi sombong dan licik, dan berpikir bahwa dia yang paling bijak diantara saudara-saudaranya di desanya itu. Lalu kakak pemuda itu mengatakan bahwa ada seorang orangtua yang bijak tinggal di atas bukit. Merasa terganggu dan frustrasi karena ucapan kakaknya, maka si pemuda itupun bersama temannya naik keatas bukit menemui si orangtua itu. Sesampai diatas bukit dia tantang si orangtua itu sambil menggenggam ditangannya seekor burung kecil dan ditaruh dibalik punggungnya. Dengan pongahnya si pemuda itu berkata, “ Hai orangtua. Apakah burung yang saya genggam ditangan dibalik punggung saya ini seekor burung hidup atau seekor burung mati? “

Nah, andaikan posisi Anda adalah sebagai orang tua yang bijak tadi, jawaban apa yang akan Anda berikan kepada pemuda itu ? Jika Anda menjawab burung itu masih hidup, maka pemuda itu akan meremas burung kecil itu sampai mati. Jika Anda mengatakan burung itu sudah mati, maka dia akan membuka genggaman tangannya dan membiarkan burung itu sampai terbang didepan mata Anda.

Pemuda tersebut paham bahwa dia tidak perduli dengan jawaban yang akan diberikan oleh orangtua itu kerana jawapan “Hidup” atau “Mati” akan salah. Oleh demikian, dia berpikir bahwa dia akan dapat membuktikan dirinya yang paling bijak daripada orangtua itu dan memproklamirkan dirinya sebagai orang bijak baru di desa itu.

Mari kita simak apa yang akan disampaikan oleh orangtua yang bijak tersebut. “Anak muda, apakah burung itu hidup atau mati adalah tidak penting kerana keputusannya ada ditangan Anda. Hanya Anda yang bisa menentukan burung itu hidup atau mati. Silahkan putuskan sendiri.”

Apakah begitu juga dengan jalur karir kita sebagai seorang “planter” atau pun apa profesi juga? Kita bisa berkarir sampai jabatan puncak atau tidak adalah tergantung pada kemauan kerja keras kita sendiri dan berkomitmen.

Burung hidup menggambarkan harapan dan keberhasilan. Jika ada harapan akan ada keberhasilan. Terserah Anda untuk mencari dan mengembangkan potensinya dan selalu komit menuju puncak tangga kesuksesan. Semua pilihan ada ditangan Anda. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan bekerja dengan bijak. Jauhkan pikiran negatif terhadap teman dan kolega Anda. Katakan bahwa pikiran negatif adalah ibarat burung mati.

Jangan pernah menguji atasan Anda dan membuktikannya salah. Itu adalah kesalahan besar dalam hidup. Dalam bisnis, pelanggan selalu benar. Tetapi dalam dunia perkerjaanan, bos selalu benar. Anda harus paham, bahwa kepemilikan membuat berbeda. Seorang pemilik bukanlah seorang pengamat tetapi adalah seorang pemilik modal. Kita sebagai “planter” adalah sebagai orang yang makan gaji. Jangan bertingkah laku seperti seorang anak muda yang sombong dan tinggi hati. Dengan kesombongan yang berlebihan si pemuda itu tampaknya seperti seorang yang bijak padahal sebenarnya dia bukan seorang yang bijaksana.

Saya selalu ingat dengan Mr.Chong Tong Soo yang telah mendidik saya. Dia adalah Visiting Manager ( VM ) saya ketika saya dimutasi ke Kebun Mekassar dari Kebun Pukin tahun 1985 setelah diakuisisi oleh IOI Corporation Berhard. Saya terus bekerja di perusahaan itu karena semua pekerjaan terus berlanjut. Mr.Chong melakukan kunjungan mingguan secara teratur ke Kebun sesuai jadwal. Beliau mengatakan kepada saya, “ jika Anda tidak paham silakan bertanya, dan jika Anda tidak bertanya berarti Anda sudah paham. Nanti kalau Anda punya masalah harus bisa Anda tangani sebab Andalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab di Kebun ini.” Sekarang saya teruskan mengulangi kata-kata bijak ini kepada Manager dan Asisten Kebun ketika saya melakukan kunjungan rutin.

Ketika Anda telah mempelajari cara mengendalikan dan menangani kebun dengan baik, maka Anda akan berani menghadapi tantangan yang akan Anda hadapi tanpa rasa takut. Mr.Lim King Hian selalu mengingatkan saya ketika dia melakukan kunjungan bulanan ke Kebun Mekassar sebagai Senior Manager (SM). “Mengapa Anda begitu kuatir jika Bos besar melakukan kunjungan ke sini? Anda harus menghargai Executive Chairman (EC) kita yang masih menyempatkan diri sering datang ke kebun Anda. Anda harus membuang semua ketakutan itu. Kerjakan saja pekerjaan Anda sebagaimana mestinya. Bukankah lebih baik untuk Anda bahwa semakin bos sering datang dan semakin dilihatnya kemajuan yang Anda kerjakan di kebun?”

Kata-kata pendorong semangat dari senior atau atasan selalu dapat memotivasi kita berkinerja unggul dan pada akhirnya membuat kita menjadi “ Staf yang lebih unggul”. Selama kita mau mendengarkan nasehat dan mau menerima instruksi dari senior, kita akan dapat menimbah pengalaman mereka dan pengalaman kita sendiripun akan semakin berambah-tambah sepanjang tahun.

Bukankah benar bahwa” Kebijaksanaan timbul dari pengalaman, dan pengalaman didapat sejalan dengan bertambahnya usia?”

Monday, June 9, 2008

JANGAN MENGELUH! (DON'T COMPLAIN!)






Lihat sekililing Anda dan bersyukurlah apa yang Anda memiliki dalam kehidupan ini.

Nasib kita kebih mujur karena apa yang kita ada sangat lebih dari kebutuhan.

Mari kita kurang mengeluh tetapi lebih memberi.

Friday, June 6, 2008

DENGAR SAJA! JANGAN BANYAK BICARA!

Kita semuanya akan melakukan hal yang sama seperti orang lain disekitar kita, serupa lalat terbang sekitar seekor kuda. Artinya ketika orang lain sedang berbicara kepada kita, kita lebih cenderung memikirkan apa yang akan disampaikan dan bukan menyimak dengan baik apa yang dikatakan lawan bicara kita. Kita seharusnya menghargai dan lebih perduli dan perhatian terhadap omongan orang lain tetapi kebiasaan buruk sulit dirobah.

Untuk berbagi.........

Memang seorang pemimpin yang baik selalu berbicara kuat dengan suara otoritas dan berteriak dengan suara serupa seorang komando. Biasanya seorang pemimpin adalah seorang pembicara yang baik dan terbiasa berbicara terus menerus. Dia mengharapkan anggota timnya menjadi pengikutnya dan mendengarkan omongannya hampir sepanjang waktu. Meski pun begitu, ada waktunya untuk seorang pemimin menrendahkan hati dan mendengar apa yang diomong oleh anggota timnya ketika sedang bicara.

Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah seorang pendengar yang baik sepanjang tahun ini. Saya sering memotong pembicaraan orang lain ketika sedang berbicara pada saya. Alasan yang saya berikan bahwa, pada saat usia tua saat ini, saya cenderung lupa bila tidak langsung mengutarakannya kepada lawan bicara apalagi ketika harus menanggapinya. Meskipun begitu, saya selalu meminta maaf dan mengizinkan saya memotong ucapannya. Dengan kepafaman ini, perbuatan saya tiada sedikit pun menyakiti perasaan dari lawan bicara saya.

Entah bagaimana, seorang pemimpin yang sukses adalah seorang yang mau mendengarkan baik-baik, karena beliau telah menemukan dan mengetahui makna pendengaran yang bernilai. Adalah sangat perlu dan penting untuk setiap orang yang ingin berkomunikasi dengan baik agar mempedomani apa yang dikatakan oleh Dale Carnegie, "Rahasia mempengaruhi orang terletak bukan pada sebagus apa orang tersebut berbicara tetapi sebagus apa dia mau menjadi pendengar yang baik".

Kecuali kalau kita mau merobah kebiasaan terus berbicara dan belajar mendengarkan kepada orang lain, kita tidak akan pernah mendapat umpan balik dan informasi yang dapat dipercaya dari bawahan , kolega, dan teman sekerja kita. "Kenapa saya harus sampaikan kepada dia jika dia tidak mau menyimak apa yang saya katakan ?" Itu ada dalam benak kita mau pun sikap manusia normal.


Selalu diingatkan, : SEBELUM ANDA BERBICARA....... DENGARKANLAH.

Dalam Kitab Injil Jakobus 1 : 19 : Tuhan mengingatkan kita, " Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata…..”

Jadikanlah seorang pendengar yang lebih baik dan juga pelaku Firman Tuhan.

Monday, June 2, 2008

PEGANG TANGAN ANAKMU DAN JANGAN LEPASKA

Seorang anak perempuan kecil dan ayahnya sedang melintasi jembatan.

Ayahnya merasa kuatir dan omong begini, “ Sayang, pegang tangan ayah agar kamu tidak terjatuh kedalam sungai”

Tetapi anak perempuannya yang kecil itu menjawab, “ Nggak. Ayah saja yang memegang tangan saya”

” Apa bedanya ? “
orangtuanya bingung sambil bertanya.

”Ada perbedaan besar
, Ayah.” jawab anaknya itu. “ Jika saya yang memegang tangan Ayah dan sesuatu terjadi pada saya, bisa saja saya melepas tangan Ayah. Tetapi jika Ayah yang memegang tangan saya, saya merasa pasti tidak terjadi apa-apa, sebab Ayah tidak akan pernah melepas tangan saya”.

Dalam hubungan apapun, inti dari rasa percaya bukan terletak pada perikatannya akan tetapi terletak pada pertaliannya.

Jadi peganglah tangan orang yang Anda cintai ketimbang yang mengharapkan mereka yang memegang tangan Anda.

Untuk berbagi………

Ya. Cerita ini memang benar. Ayah yang perduli anaknya adalah Ayah yang memegang tangan anaknya sebab dalam keadaan apa pun dia tidak akan melepaskan tangan anaknya.

Teman sejati adalah teman yang menawarkan kepada Anda bantuan ketika dia mengetahui bahwa Anda dalam kesulitan,dan bukan seorang teman yang mengatakan, “ Datanglah kepada saya jika Anda membutuhkan pertolonganku.”

Seorang pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang menunjukkan jalan keluar kepada Anda dan bukan seorang pemimpin yang mengatakan “ Bertanyalah jika Anda tidak paham.”

Diharap Anda memiliki sesuatu untuk dibagikan dan menambahkannya didalam “sharing” ini.

Monday, May 26, 2008

JADILAH SEBAGAI SEORANG PENGAMAT DAN BELAJARLAH MEMUSATKAN PERHATIAN

Mahasiwa baru sekolah kedokteran sedang belajar tentang anatomi tubuh, dan sebagai contohnya, sang Professor menunjukkan mayat manusia. Semua mahasiswa itu berkumpul di depan meja bedah, dan mayat tersebut ditutupi dengan kain putih.

Professor itu memulai pelajarannya dengan memberitahu mahasiwanya,"Dalam bidang kedokteran , ada 2 hal penting yang harus dimiliki seorang dokter. Yang pertama adalah Anda tidak perlu ragu menyentuh mayat manusia."

Sebagai contoh , Professor itu menarik kain putih tadi dan memasukkan jari tanggannya kedalam pantat mayat tersebut, kemudian menariknya dan isap didalam mulutnya.

“Nah, sekarang teruskan dan lakukanlah hal yang sama”, kata Professor itu kepada mahasiswanya. Mereka merasa aneh dan ragu untuk melakukannya, namun pada giliran masing-masing melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh sang Professor tadi. Setiap mahasiwa coba mengontrol supaya tidak muntah.

Ketika semuanya sudah selesai, Professor itu pun memperhatikan satu persatu mahasiswanya dan berkata, “Hal kedua yang paling penting harus diperhatikan seorang dokter adalah OBSERVASI. Tadi saya masukkan jari tengah saya tetapi yang saya isap adalah jari telunjuk. Sekarang mulai belajarlah bagaimana memusatkan perhatikan.”


Untuk Berbagi…..

Nah, saya yakin kita pasti tertawa ketika selesai membaca cerita lelucon ini.

Dalam belajar apalagi kita pemula dalam apa profesi pun, kita secara nyata memiliki kecenderungan untuk mengabaikan. Kita dengan mudah tertipu dan menjadi “sasaran olok-olok” bagi orang lain karena kita masih kurang pengalaman. Kita memang kurang observasi dan belum belajar memusatkan perhatian.

Seorang “planter” (profesi dalam perkebunan) dilatih untuk sangat suka mengamati dilapangan. Ketika dia berjalan dilapangan, dia dapat melihat dan menditeksi hal-hal yang tidak benar di kebun yang dia tangani. Pandangan matanya harus setajam mata seekor burung elang atau rajawali.

Memusatkan perhatian dengan observasi, seorang “planter” dapat bertindak melakukan pekerjaan itu sebagaimana mestinya dengan menegakkan disiplin staf dilapangan dan mengambil tindakan perbaikan agar pekerjaan itu dapat diselesaikan secara patut tanpa ada keraguan dan penundaan. Staf dan mandor dilatih untuk memusatkan perhatian juga melaksanakan dan memeriksa tugas-tugasnya dilapangan. Kurang perhatian dan kurang observasi kepada karyawan mengakibatkan pekerjaan itu tidak selesai.


Seorang “planter“ tidak akan kompromi terhadap standar dan kualitas pekerjaan. Tidak ada tawar menawar untuk pekerjaan setengah selesai atau setengah tidak selesai. Pekerjaan untuk hari ini harus diselesaikan dan pasti diselesaikan. Ini hanya masalah DEDIKASI dan KOMITMENT, terlibat perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pendelegasian, tindak lanjut dan pengawasan.

Sepanjang seorang “planter” memusatkan perhatiannya kepada prinsip "rencanakan pekerjaan Anda” dan “kerjakan rencana Anda”, pasti pekerjaan itu "selesai dengan baik”. Inilah yang kita sebutkan sebagai “kepuasan kerja”

Saturday, May 17, 2008

CINTALAH PEKERJAAN ANDA !


NASKAH PIDATO DARI MR.NARYANA MURTHY SELAMA SESI MEMBERIKAN BIMBINGAN :

Saya tahu bahwa ada orang yang bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari seminggu, atau bahkan lebih. Beberapa orang meperpanjangkan waktu kerjanya kerana keadaan darurat tetapi untuk sementara saja. Ada orang lain yang saya kenal sudah sering bekerja lembur selama bertahun-tahun. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar bekerja selama jam itu, tetapi saya tahu bahwa mereka berada dalam kantor lama sekali. Orang lain menghabiskan waktu berjam-jam kerja karena mereka sudah menjadi pecandu kerja dikantor.
Apapun alasannya untuk bekerja lembur, maka bekerja lebih dari jam kerja dalam jangka panjang adalah fatal kepada orang dan organisasi. Ada hal-hal yang dapat dilaksanakan oleh manager untuk merobah masalah tersebut menjadikan kebaikan setiap karyawan. Karena bekerja terlalu lama di kantor, dalam jangka panjang, akan memberi kesempatan membuat kesalahan-kesalahan kemungkinan besar.

Kolega saya yang bekerja terlalu lama di kantor seringkali membuat kesalahan-kesalahan akibat terlalu kelelahan. Memperbaiki kesalahan mereka ini membutuhkan waktu mereka dan juga untuk membuat koreksi kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan lewat jam 5 sore pada hari Senin.

Masalah bagi orang yang bekerja dengan waktu lama dkantor rupanya bukan berada ditempat kerja yang menyenangkan hati. Mereka sering mengeluhkan rekan-rekan lain yang tidak bekerja sekeras seperti mereka dan terjadi jengkel, tersinggung, sering naik darah dan bahkan lekas marah. Oleh demikian, rekan-rekan lain menghindari mereka. Tingkah laku seperti ini merupakan masalah besar. Sebenarnya, penyelesaian pekerjaan jauh lebih baik hasilnya dengan kerja sama ketimbang satu sama lain saling menghindar.

Sebagai Manager, ada beberapa cara yang kita bisa lakukan untuk membantu staff dan anak buah kita meninggalkan kantor sesudah jam kerja. Terutama harus memberikan contoh kepada mereka yaitu langsung pulang rumah dari kantor sesudah jam kerja. Saya telah bekerja dengan seorang manager yang mencaci orang bekerja waktu lama. Kata-katanya kurang bermakna ketika dia kirimkan kata makian kepada mereka melalui email masing-masing tepatnya jam 02 pagi pada hari Minggu.

Yang kedua adalah meminta kepada mereka agar menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Sebagai contoh, ini bisa dijadikan sebagai pedoman yang membantu :

1) Bangun pagi. Serapang pagi secukupnya. Kemudian berangkat kekantor.
2) Bekerja keras dengan sungguh-sungguh selama 8 atau 9 jam.
3) Pulang rumah sesudah jam kerja
4) Bacalah buku/komik, tontonlah film yang menyenangkan, bermain
dengan anak-anak Anda
5) Makanlah dan tidurlah dengan baik.

Ini disebut rekreasi.

Lakukan tahap 1, 3 , 4 dan 5 memungkinkan melakukan tahap 2.

Bekerja dengan jam yang teratur dan rekreasilah setiap hari dengan konsep sederhana. Meskipun ini sulit dilakukan oleh sebagian orang sebab memerlukan “ perobahan pribadi” dalam hidup, tetapi mungkin dilakukan sejak kita semuanya memiliki kekuatan memilih untuk melakukannya.

Menyikapi issu lembur, saya mengingatkan anak tertua saya. Ketika dia masih kecil, waktu ada kunjungan tamu saya, dia tidak mau tidur dan tidak perduli berapa lama tamu berada dirumah kita, dan berapa jam sudah berjalan waktu kunjungan tamu pada malam itu. Seolah-olah dia takut akan kehilangan sesuatu. Begitu tamu saya pulang maka diapun tertidur. Akibatnya dia terlalu lelah dan bermimpi berteriak karena mimpi seram. Rupanya ketiga kita harus membayar mahal karena rasa takutnya akan kehilangan sesuatu tadi.

Barangkali beberapa orang yang bekerja memerlukan lebih waktu untuk menyelesaikan semua kerjanya ketika mereka meninggalkan kantor. Tetapi ini akan terjadi satu kebiasaan dan terjadi kekacauan dalam perkerjaan mereka. Kehidupan memang begini!. Masalah akan ada dalam 24 jam sehari. Kita perlu istirahat sebentar setelah bekerja langsung berapa jam berjalan. Jadi, sempatkan tidur sebentar selepas makan siang. Sesuatu akan terjadi ketika Anda tertidur, dan Anda akan menghilangan segala kelelahan dengan memiliki kembali tenaga baru ketika bagun dari tidur siang meski sebentar saja.

“CINTAILAH PEKERJAAN ANDA, TETAPI JANGAN PERNAH JATUH CINTA DENGAN PERUSAHAAN ANDA KARENA ANDA TIDAK PERNAH TAHU KAPAN PERUSAHAAN BERHENTI MENCINTAI ANDA” - Narayana Murthy

Untuk sharing…..

Sebagai karyawan , saya yakin kita semua mencintai pekerjaan kita. Soalnya perlukah kita bekerja seperti seorang yang gila kerja dan mengharapkan anak buah dan staff kita juga menjadi “workaholic”?

Bukankah ada waktu untuk bekerja? Ada juga waktu untuk benar-benar beristirahat dan rileks untuk melepaskan rasa stress. Begitu juga ada waktu untuk bermain dan melakukan olahraga secara teratur sesudah bekerja agar tetap sehat.

Bekerja keras berbeda dari bekerja dengan waktu lama seolah-olah tidak dapat berhenti bekerja. Prinsip sukses adalah “ bekerja keras dan bekerja dengan bijak.” Kita tidak melihat seberapa lama seseorang bekerja, tetapi yang pentingnya kita melihat cara kerjanya bagaimana menyelesaikan pekerjaannya.

Nah, kita selalu diingatkan akan arti dari “rasa memiliki” ketika bekerja di perusahaan manapun. Terlepas dari apapun gelar dan jabatan kita, secara nyata sebagai karyawan di perusahaan manapun dituntut tanggungjawab terhadap pekerjaan kita. Kita harus mengkontribusikan keahlian terbaik kita, dan dengan antusias mencapai tujuan dan sasaran perusahaan secara efisien. Setelah mempertimbangkan semuanya kita harus berkontibusi dan menjadi bernilai sebagai “assets” di dalam perusahaan kita, bukan “liabilities".

Bagi saya, ini bukan satu keraguan atau kesangsian jatuh cinta dengan perusahaan, tetapi seorang karyawan akan merasa lebih aman jika diakui sebagai seorang anggota tim di dalam organisasi. Sesungguhnya seorang karyawan ingin dipuji, dihormati dan dihargai oleh peusahaan sehingga karyawan dapat menikmati penghargaan kenaikan gaji dan bonus yang diberikan kepadanya. Ketika ada hubungan tali persaudaraan antara karyawan dan Pengusaha, maka karyawan dapat bertahan dan senang bekerja di perusahaan itu.

Jika keadaan berbeda dari situasi tersebut tadi, mungkin apa yang dikatakan oleh Mr.N.Murthy mutlak benar, “perusahaan telah berhenti mencintai Anda”. Ya. Anda tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga. Ini bermakna waktu sudak sampai untuk membuat keputuskan mengundur diri dan berhenti kerja. Carilah kesempatan diperusahaan lain dimana Anda akan dapat menemukan kebahagian dan kepusaan kerja.

Dalam Kolose 3:23-24 dikatakan : “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagi upah. Kristus adalah tuan dan kita hamba-hamba-Nya.

Wednesday, April 30, 2008

Khilaf Adalah Sifat Manusia (To Err Is Human)

Hidup kita tidak selalu berjalan mulus. Membuat kesalahan merupakan bagian pengalaman dalam pekerjaan. Ada masalah yang tak dapat terelakkan dan kita harus menerimanya dan memanfaatkan segala masalah tersebut sebagai pangalaman yang pahit. Tetapi yang ada masalah bisa kita menghalangi, makanya hanya membuktikan kita tidak pernah belajar apapun dari kesalahan yang lama.

Seorang teman memberitahu saya bahwa dia telah mendaftarkan laporan pribadi secara khusus untuk rekor setiap kesalahan terjadi. “Membuat kesalahan biasa saja,” kata beliau,” tetapi mengulangi kesalahan yang sama untuk 2 kali tidak dapat dimaafkan.”

“Orang yang tidak dapat mengingat apa terjadi pada masa lalu cenderung mengulangi kesalahannya” – oleh George Santayana.

“Kesalahan terasa pahit ketika itu terjadi, tetapi bertahun-tahun kemudian kesalahan –kesalahan yang pernah kita buat menjadi sesuatu yang dianggap sebagai pengalaman” – oleh Denis Whitely.

Saya menyukai ide teman saya dan dengan segera menyadur sistimnya. Maka sudah beberapa tahun saya mempraktikkan dan daftar kesalahan yang saya tuliskan semakin bertambah banyak. Daftar itu berisi dokumen dan memo tentang kesalahan-kesalahan, seperti salah dalam menilai, dan juga keputusan – keputusan bodoh yang pernah saya buat.

Maka diingatkan kesalahan-kesalahan masa lalu sungguh tidak menyenangkan diri, tetapi saya menelusuri rekor kesalahan-kesalahan lama secara berkala supaya tidak mengulangi kesalahan –kesalahan tersebut. Walaupun kesulitan tetapi memang cara efektif untuk belajar. Apakah anda ingin membuat sebuah daftar kesalahan diri? Cobalah !.

Untuk sharing …

Ini memang ide besar! Buatlah sebuah daftar kesalahan yang pernah kita lakukan dan meninjau kembali secara berkala selama hidup terus berjalan. Bagi saya, kumpulan kesalahan-kesalahan merupakan pengalaman yang cukup pahit.

Kita telah diajarkan bahwa,“ Khilaf adalah sifat manusia”. Adalah wajar membuat kesalahan. Jika tidak , kita tidak akan pernah mau belajar. Tetapi adalah hal bodoh jika kita masih mengulangi kesalahan yang sama. Itulah yang selalu diingatkan pemimpin tim kepada anggota timnya.

Tidak dapat dimaafkan? Kenapa tidak ?

Baiklah, masih ada kecenderungan lagi membuat kesalahan yang sama jika kita tidak membuat sebuah daftar kesalahan kita untuk mengingatkan kita agar tidak mengulanginya lagi. Soalnya apakah kita dapat memaafkan diri sendiri karena kebodohan seperti itu ?

Jangan menyalahkan orang lain. Jangan menyalahkan atasan anda. Salahkanlah diri sendiri jika anda tidak pernah belajar dari kesalahan tetapi membuat kesalahan – kesalahan berulang-ulang merupakan satu kebodohan.

Sebaliknya, kita seharusnya belajar dari kesalahan yang kita buat pada masa lalu, iaitu pengalaman pahit, disepanjang karir kita. Apalagi kita akan menjadi lebih bijaksana membuat penilaian yang baik dan keputusan yang betul. Makanya tidak lagi kita ulangi kesalahan yang sama. Hasil akhirnya selalu manis dan kita pun merasakan kepuasan kerja.


Apakah anda juga berpikir demikian ?