Wednesday, October 29, 2008

Untuk Sharing Pengalaman Bekerja Di Indonesia Sebagai Seorang Expatriate Planter

Pada tahun 1992, saya masih bekerja sebagai manager di Swee Lam Estate, lokasinya di Kulai, Johor. Melalui head-hunter, saya ditawari bekerja sebagai seorang expatriate planter di Indonesia dan diberikan kesempatan melakukan kunjungan ke kebun-kebun kelapa sawit di daerah Pekanbaru. Namun setelah kunjungan tersebut, saya dimutasi ke Segamat Estate dan Kota Segamat adalah kota kediaman keluarga saya. Disanalah anak-anak kami menyelesaikan pendidikan menengah sebelum melanjut ke perguruan tinggi di luar negeri. Dengan demikian, saya harus membuat satu keputusan menolak tawaran tersebut. Pada bulan Juni 1995 saya bergabung dengan satu perusahaan perkebunan sebagai Plantation Controller dan kantornya di Johor Baru. Kesempatan bekerja sebagai expatriate planter di Indonesia datang kedua kali untuk saya pada tahun 2003 dan saya pun hadir wawancara dua kali di Kuala Lumpur. Akhirnya hasil wawancara tersebut sukses.

Saya berada di Medan selama 1½ bulan sejak tiba di bandara Polonia pada tanggal 3 Januari 2004. Saya diatur tinggal di Hotel Tiara bersama teman sekerja, FN, yang tiba 2 hari kemudian. Setiap hari kami diantar jemput mobil pool perusahaan kekantor lokasinya di Tembung. Dalam perjalanan kami terasa sangat stress karena supir kami begitu berani dan agresip meluncur di jalan yang begitu macet. Kami sangat keterkejutkan ketika dia mengambil jalan ke kiri dan ke kanan dan tidak memberikan kesempatan kepada kenderaan yang sedikit lambat untuk mendahuluinya. Dengan situasi itu, rupanya ada seperti aturan yang tidak jelas bahwa “Siapa duluan menyerobot dia di depan”. Kami sangat heran melihat supir yang lain bisa terima tanpa kemarahan dan lalu berhenti dan membiarkan mobil yang duluan berlalu. Yang paling mengagetkan tiba-tiba ada satu mobil di depan coba memutar balik padahal hampir seluruh kenderaan bergerak hanya dengan jarak bemper-ke-bemper dalam satu arah. Apakah ini sesuatu yang tidak lazim dan kelihatan aneh? Di Malaysia jika seorang supir berbuat seperti itu akan dipukul oleh pemakai jalan (road bullies). Walaupun dalam kehebohan dan kekuatiran kami kagum tidak melihat kecelakaan terjadi.

Tak lama lagi saya dimutasi ke Region Jambi pada tgl 18 Februari 2004. Namun Kota Jambi adalah kota kecil dibandingkan Medan maka lalu lintas pun tidak begitu padat tetapi disana mobil kami selalu didahului oleh sepeda motor. Saya disarankan dan diingatkan oleh seorang teman planter dari Malaysia lebih sesuai meminta supir mengemudi mobil setiap hari kerja. Jika perlu mengemudi sendiri pada hari minggu, harus berhati-hati. Juga diinformasikan jika mobil besar menabrak sepeda motor atau terkena di jalan maka mobil yang lebih besar selalu disalahkan dan harus mengganti biaya kerusakan. Ketika ada tabrakan, biarkan supir yang menyelesaikannya.

Pada waktu baru tiba di Jambi, kadang-kadang masih melihat supir menerobos lampu pengatur lalu lintas khususnya angkot dan ojek. Akan tetapi yang kurang nasib baik ditangkap oleh polisi dan didenda kerana menlanggar undang-undang lalu lintas.

Saya diingatkan agar menyalakan lampu darurat agar kenderaan dibelakang saya mengetahui bahwa saya terus berjalan lurus ketika berada dipersimpangan. Selain itu saya harus sangat berhati-hati, melihat ke kaca spion kiri dan kanan dan terus membunyikan klekson, dan meyakinkan bahwa saya mengemudi dengan was-was. Supaya berhati-hati, coba hindari menabrak sepeda motor yang mengambil jalan dari kiri dan tiba-tiba membelok ke kanan.

Jangan heran bahwa sepeda motor di Jambi adalah kenderaan keluarga. Sangat sering kita lihat sepeda motor dipakai memuat 3 dan bahkan 4 orang. Kepala keluarga yang mengendarai sepeda motor itu dan seorang anak akan duduk di depannya, dengan satu orang anak lagi duduk diantara belakang pengemudi dan isterinya. Sedangkan cewek memakai kaos, biasanya duduk menyamping dan menyilangkan kakinya disebelah kiri. Mereka jarang mau pakai helm kecuali melihat ada polisi.

Nampaknya parkir kenderaaan bukan satu masalah besar di kota Jambi, dan barangkali juga dikota-kota lain di Indonesia. Anda bisa memarkirkan mobil di pinggir jalan dimana-mana saja dengan bantuan tukang parkir. Jika Anda mundur dan kembali ke arah dari mana datang atau mau menyebrang dari pinggir jalan ke jalan lain, tukang parkir akan membantu Anda untuk menghentikan kenderaan yang lewat dengan meniup peluitnya dan meminta Rp.1,000.00 uang parkir.

Bekerja di Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda dari segi budaya tetapi ada perbedaan dari segi bahasa. Jika kita tidak ada waktu untuk menemui seseorang, jangan menggunakan kata TIDAK SENANG (NOT FREE in Bahasa Inggris) karena bisa disalah artikan oleh orang Indonesia bahwa kita tidak merasa senang bertemu dengan mereka. Unutk kata CHILDREN, jangan gunakan kata BUDAK yang berarti SLAVE dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia PLANTATION disebutkan KEBUN, bukan LADANG. Petani di Indonesia menyebut LADANG adalah lahan pertanian yang tidak diairi. FERTILISER disebut PUPUK bukan BAJA. HARVESTING bukan MEMOTONG BUAH tetapi dikatakan PANEN BUAH dan BUAH MASAK dikatakan BUAH MATANG.

Saya yakin kata-kata berikut rupanya begitu asing kepada semua planter di Malaysia. LOOSE FRUIT disebut BRONDOLAN, bukan BIJI GUGUR. Jangan bingung, KENTOSAN dimaksud VOPs (Volunteered Oil Palm seedlings). Kemudian KRISAN adalah SEDGES dan PAKISAN adalah FERNS.

PALM OIL MILL bukan KILANG tapi PABRIK MINYAK KELAPA SAWIT atau PMKS. Dan OER (Oil Extraction Rate) adalah RENDEMEN. Apa lagi AVERAGE BUNCH WEIGHT (ABW) sudah menjadi KOMIDEL. Aneh dan lucu 'kan untuk planter Malaysia?

Hari demi hari, saya pelajari memahami Bahasa Indonesia dengan planter Indonesia sangat menyenangkan dan menantang. Saya coba menggunakan perkataan-perkataan Bahasa Inggris dengan akhiran “ tion” digantikan dengan “si “ dan nampaknya mereka paham. Saya mulai melakukan SOSIALISASI dan kemudian fokus kepada MOTIVASI agar tercipta KOMUNIKASI yang lebih baik. Rencana tindakan harus DIIMPLEMENTASI dan meyakinkan REKOMENDASI baru DIAPLIKASI agar target PRODUKSI bisa dapat REALISASI. Betapa mengagumkan ini, versi baru Bahasa Indonesia. Teringatnya, kata MUTASI artinya TRANSFER tetapi bisa juga berarti MUTATION!

Indonesia baik sekali menambah perbendaharaan kata, contoh Depnaker adalah Departmen Tenaga Kerja ( Department of Labor ), PUSKESMAS ( Pusat Kesehatan Masyarakat –local government clinic ), SATPAM (Satuan Pengamanan – Security Guard), Kapolsek (Kepala Polisi Sektor –Head of district police). Disini bahkan mereka ciptakan kata HUMAS (Hubungan Masyarakat –public relation officer local community ) dan tanggung jawab seorang HUMAS di Perkebunan harus dekat dan bersosialisasi dengan tokoh, petani dan masyarakat desa.

Di Malaysia , tenaga kerja Indonesia disebutkan TKI. Di Indonesia, Orang Malaysia serta orang asing dari negara lain disebutkan TKA (Tenaga Kerja Asing). Bedanya ketika kita mengurus KITAS ( Kartu Izin Tinggal Terbatas- Limited Stay Permit Card ) dan SKLD ( Surat Keterangan Lapor Diri – Certificate of Police Registration ), diambil semua sidik jari tangan kita di kantor imigrasi dan polisi, bukan hanya sidik ibu jari saja.

Dalam satu pertemuan dengan semua pimpinan kebun, saya nyatakan apa jenis kerja pun bisa diatur dari segi manajemen perkebunan. Ada seorang EM (Estate Manager) tertawa apabila mendengar saya katakan ”bisa diatur”. Dan ada seorang SEM (Senior Estate Manager) menyampaikan pertanyaan pada saya dengan sindiran. ”Mister, apakah maksud Anda jika semua tidak bisa diatur, saya bukan orang Indonesia?” Saya hanya tersenyum dan menjawab begini,
“Bapak yang ngomong, bukan saya.”

Apapun juga, saya yakin satu hal yang Anda akan setuju dengan saya, yaitu kalau Malaysia mengatakan BOLEH, maka Indonesia mengatakan BISA.

3 comments:

Anonymous said...

Artikel Mr Loh tentang pengalaman Jambi sangat bagus, lebih bagus lagi hasil dokumentasi bapak berupa foto terbaik di Jambi yan tidak ada di negeri seberang juga dapat ditampilkan he he he ya pak.

Anonymous said...

Terima kasih Pak atas sharingnya, saya usul Bapak untuk buat buku tentang pengalaman Bapak.

administrator said...

I'm Ooi Tee Ching, a reporter with Malaysia's newspaper New Straits Times.
It is interesting to note the similarities and differences between Bahasa Malaysia and Bahasa Indonesia, two of the most commonly used languages at oil palm estates in Malaysia and Indonesia.
Thank you for highlighting that in Indonesia, planters calls their estates 'kebun' while here in Malaysia we refer it as 'ladang'.