Tuesday, September 9, 2008

Disiplin


Kita sering bertanya-tanya mengapa ribuan pelari marathon kelihatannya mereka dapat menikmati dalam perlombaan yang sangat meletihkan. Tentu saja, kebanyakan diantaranya bukan mengadakan harapan mau menang. Jadi apakah kemauan mereka sebenarnya? Seorang penulis Bapak Art Carey, menjelaskan kepada para pembacanya bahwa: "Kenikmatan yang sebenarnya untuk seorang pelari pada Perlombaan Maraton di Boston hanya dapat sampai ke garis akhir, jadi ibaratnya memenangkan pertlombaan itu dengan diri sendiri, berarti mengerjakan apa yang telah direncanakan.“ Itulah sikap Ibrani yang seharusnya dimiliki. Tetaplah setia dalam Perlombaan Imam sampai akhirnya.

Untuk Berbagi :

Saya percaya bahwa kita dapat mempelajari sesuatu mata pelajaran berkenaan dengan disiplin dari pelari-pelari maraton. Jelas dikatakan bahwa seorang pelari maraton yang telah berlatih keras untuk sebuah perlombaan, pasti berusaha sekuat tenaganya menyelesaikan perlombaan dengan penuh ketabahan dan keuletan, sekalipun tidak juarai dalam perlombaan tersebut.

Kita telah mendengar nama Bapak John Steven Akhwari, pelari maraton dari Tanzania pada tahun 1968 di Olimpiade Meksiko. Kita pun telah membaca cerita Bapak John Steven Akhwari, seorang atlit yang disiplin, bahwa beliau berjalan pincang kesakitan dengan kaki dibalut hanya bisa menyampaikan garis akhir di urutan terakhir. Walau begitu, dia telah menyelesaikan misinya yang seharusnya dilakukan. Beliau mengetahui bahwa dia mewakilkan negaranya ke Olimpiade Meksiko bukan hanya mengambil bagian dalam perlombaan marathon tetapi juga untuk menyelesaikan perlombaan tersebut.

Dalam Ibrani pasal 12 ayat 1 dikatakan: "Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita" dan juga dalam Ibrani pasal 12 ayat 11 dikatakan: "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Begitu juga, kita harus disiplin ditempat kerja, mengerjakan apa yang telah kita rencanakan. Setiap waktu kita menyelesaikan pekerjaan kita, tidak perduli sesulit apapun itu, kita tahu bahwa kita dapat mengerjakannya dengan penuh disiplin, dedikasi, dan determinasi serta penuh kesungguhan, keteguhan dan keuletan. Inilah berarti kepuasan kerja atau kenikmatan yang sebenarnya dan kita semua tentu akan merasa bangga dengan kepuasan kerja yang kita miliki.

2 comments:

Anonymous said...

Disiplin berkaitan dengan waktu dan waktu berkaitan dengan kematian ( arti luas ) . Oleh karena itu " waktu " harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif . Orang yang tidak disiplin sudah pasti tidak perduli dengan waktu. Pelari maraton hanya bisa meraih medali dalam perlombaan karena dia disiplin berlatih.

Anonymous said...

Disiplin adalah kunci dari semua rencana yang hendak kita capai. Ketika disiplin sudah dijalankan dengan baik, maka hal-hal positif akan menjadi hasilnya.